TANGERANG, beritahariini.id – Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya naik, stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) sudah dipenuhi wajah-wajah yang terburu waktu. Lewat gerbong yang padat, KRL menjadi ruang pertemuan antara dua kelompok yang sama-sama bergerak, tetapi dengan tujuan yang tak selalu sejalan. Di satu sisi, para penumpang yang berpacu dengan jadwal kerja, kuliah, sekolah, dan aktivitas harian demi memenuhi tuntutan hidup di kota besar. Di sisi lain, ada para pekerja KRL yang memulai hari lebih awal untuk memastikan perjalanan ribuan orang tetap berjalan lancar.
Bagi Andika (34), seorang security yang setiap harinya datang lebih awal dari para penumpang yang datang. “Kalo saya shift pagi, saya berangkat sebelum jam 5 karena di stasiun Daru ini mulai beroperasi mulai dari jam 5 pagi sampai 23, kalo saya shift pagi biasanya ganti shift pas jam 14,” ungkapnya. Dengan waktu kerja yang panjang, mulai dari mengatur antrean penumpang hingga menjaga keamanan di area peron, rutinitas itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya di lingkungan KRL yang tidak benar-benar sepi.
Namun, dibalik rutinitas yang berjalan setiap hari, jam sibuk menjadi tantangan terbesar. “Di saat jam sibuk saya selaku security menjaga keamanan dan kenyamanan bagi penumpang, meskipun pada saat jam sibuk membuat penumpang berebutan untuk bisa masuk ke dalam gerbong kereta, saya memastikan jika sudah penuh jangan dipaksa untuk berusaha masuk ke dalam gerbong,” jelasnya. Andika sudah terbiasa mengahadapi padatnya aktivitas di stasiun sejak pagi hari dan di jam sibuknya mobilitas penumpang. Baginya kondisi tersebut menuntut para petugas untuk tetap sigap dan sabar mengatur arus penumpang agar situasi tetap aman dan tertib. Ia selalu memberi himbauan secara berulang kepada penumpang yang memaksakan diri masuk ke gerbong demi mengejar waktu keberangkatan.
Dalam hal ini sebagai petugas atau security KRL Andika berharap para penumpang KRL dapat lebih tertib dan memiliki kesadaran untuk mengutamakan keselamatan bersama, terutama pada jam sibuk berlangsung. “Kepadatan penumpang memang menjadi tantangan yang engga bisa dihindari, jadi harapan saya untuk para penumpang agar lebih sabar lagi dan tidak hanya mementingkan diri sendiri tetapi harus mementingkan sesama pengguna KRL,” tuturnya. Dengan sikap sederhana seperti disiplin antre dengan tertib, memberikan ruang bagi penumpang yang turun terlebih dahulu, serta tidak berdesakan saat pintu kereta dibuka dapat menciptakan suasana perjalanan lebih aman dan nyaman.
Sebagai penumpang KRL, Maulin (21) memiliki alasan utama untuk memilih KRL sebagai transportasi sehari-hari. “Karena harganya yang murah, dari ujung sampai ujung cuma habis 6 ribu jadi kalo pp pun habis sekitar 12 ribu,” ujarnya. Maulin termasuk penumpang yang sering sekali menggunakan transportasi KRL karena rute dari rumah sampai tempat kerja yang berada di Jakarta jauh lebih cepat meskipun ramai sekali penumpang dan berdesak-desakan dengan yang lainnya.
Bagi sebagian orang menggunakan transportasi KRL memudahkan mereka untuk memulai mobilitas, tidak bisa dipungkiri sebagai penumpang pasti memiliki tantangan dan hambatannya sendiri. Dalam hal ini budaya antre dan tertib masih terbilang buruk. “Menurut saya, jalur green line parah banget apalagi di jam sibuk masih minimnya orang untuk sabar masuk ke dalam gerbong, dibalik itu saya jadi paham dengan keadaan yang padet dan semua orang pada cape engga ada yang mau ngalah,” jelasnya. Lewat jalur green line yang menghubungkan stasiun Tanah Abang sampai stasiun Rangkasbitung menjadi salah satu jalur yang selalu dipadati oleh penumpang.
Perjalanan KRL Commuter Line relasi Tanah Abang sampai Rangkas Bitung dengan melewati 19 stasiun perhentian. Waktu yang ditempuh perjalanan bisa memakan waktu sekitar 90 hingga 110 menit karena green line merupakan rute terpanjang lintasan 72,8 kilometer. Jalur ini sangat sibuk dan telah menjadi urat nadi utama perekonomian yang menghubungkan Kawasan penyangga di barat dengan pusat kota Jakarta.
Sebagai pengguna setia KRL, Maulin memberitahu hambatan yang terjadi “Jam kedatangan dan keberangkatan di jalur green line ancur banget atau engga sesuai dengan jam kedatangan dan keberangkatan, engga cuma itu kereta arah Rangkasbitung jarang banget kalo udah malem, paling ada cuma sampe parung panjang engga ada yang sampai Rangkasbitung,” ungkapnya.
Maulin juga menambahkan penjelasan untuk solusi dari semua hambatan yang terjadi setiap harinya. “Khususnya untuk green line saya sebagai penumpang untuk tambahin rangkaian kereta, karena kalo solusinya nambah kedatangan kereta kayaknya bakal sulit terjadi,” tegasnya. Dari hal ini kita bisa memahami dari Andika sebagai petugas KRL dan Maulin sebagai penumpang setia pengguna KRL, jalur green line merupakan jalur yang biasanya Andika dan Maulin lewati karena stasiun yang Andika tugaskan itu adalah jalur green line. Hal ini membuat keduanya memiliki pengalaman dan kedekatan tersendiri dengan suasana perjalanan di green line, mulai dari aktivitas penumpang pada jam sibuk, kondisi stasiun, hingga dinamika perjalanan KRL setiap harinya.
Dari pengalaman tersebut, keduanya menaruh harapan besar agar tidak hanya jalur green line yang berkembang, tetapi juga layanan KRL secara keseluruhan dapat semakin maju, nyaman, aman, dan berintegritas. Mereka berharap KRL dapat terus menjadi transportasi publik yang semakin dipercaya masyarakat, mampu menghadirkan perjalanan yang lebih tertib dan menyenangkan, serta menjadi bagian penting dalam mendukung mobilitas urban yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan di masa depan. (Dhea/Fahrel)







