TANGERANG, beritahariini.id – Pagi hari menjadi awal dari rutinitas panjang mereka. Dibalik ruang kelas yang terlihat biasa, ada hari-hari melelahkan yang harus dijalani para guru demi menjaga kehidupan tetap berjalan. Bunyi bel memang menandai dimulainya pelajaran, namun ketika bel berakhir, pekerjaan mereka tidak serta-merta selesai. Ada guru yang harus berpindah ke sekolah lain, ada pula yang bergegas menekuni pekerjaan tambahan. Meski lelah mengajar sejak pagi, tuntutan hidup memaksa mereka mengorbankan waktu istirahat dan kebersamaan dengan keluarga.
Profesi guru kerap disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, banyak guru kini harus merangkap peran lain. Menjadi pelatih, pedagang kecil, atau pekerja lepas. Semua itu dilakukan bukan semata karena ambisi dari pilihan pribadi, melainkan karena penghasilan utama sebagai pendidik tak cukup untuk menopang kebutuhan hidup. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) turut menunjukkan bahwa sektor pendidikan termasuk dalam bidang dengan upah terendah di Indonesia.
Padahal, negara telah mengamanatkan perlindungan bagi tenaga pendidik. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Pasal 40 ayat (1) menyebutkan bahwa pendidik berhak memperoleh penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai. Namun, realitas di lapangan menunjukkan kesenjangan yang masih jauh dari amanat undang-undang tersebut
Bagi sebagian guru, satu pekerjaan sebagai pendidik tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka tidak bisa bergantung hanya pada penghasilan dari mengajar. Ada guru yang bahkan harus mengajar sekolah yang berbeda dalam satu hari. Najwa (22), seorang guru honorer non-PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja), misalnya. Setiap Senin, Rabu, dan Kamis pagi ia mengajar di Sekolah Dasar (SD). Pada Selasa dan Jumat pagi, ia berpindah ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Belum selesai, setiap siang Najwa harus bergegas menuju Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk kembali mengajar. Rutinitas ini membuatnya hampir tak memiliki waktu luang, apalagi kesempatan beristirahat.
Rasa lelah dari rutinitas tersebut perlahan datang, namun hidup harus terus berjalan. Ada banyak hal yang secara tidak langsung harus dikorbankan demi menjaga kebutuhan tetap terpenuhi. Mulai dari tenaga yang terkuras untuk perjalanan menuju sekolah, hingga kewajiban menjaga kesehatan di tengah jadwal padat. Tekanan bukan hanya fisik, tetapi juga mental, terutama ketika harus menghadapi kondisi atau lingkungan yang menuntut. Yang membuat tantangan Najwa lebih berat bukan sekadar perpindahan fisik dari satu sekolah ke sekolah lain, melainkan tuntutan untuk harus menyesuaikan metode mengajar sesuai karakter dan usia murid yang berbeda di setiap jenjang.
Waktu istirahat pun sering tergerus, karena pekerjaan kerap terbawa pulang dan mengurangi kesempatan bersama keluarga. “Yang dikorbankan pastinya dari sisi waktu dan tenaga, karena waktu dan tenaga bisa habis untuk pekerjaan. Apalagi kalau ada tugas yang harus selesai hari itu, mau tidak mau saya bawa pekerjaan ke rumah,” ujar Najwa.
Cerita berbeda datang dari Dika Denhas Jauhari (33), seorang guru SD. Pagi hari ia mengajar di kelas, sementara sore harinya ia beralih peran menjadi pelatih Sekolah Sepak Bola (SSB). Dengan profesi guru yang disertai pekerjaan sampingan, membagi fokus menjadi sebuah tantangan bagi Dika. Ia dituntut tetap profesional sebagai guru sekaligus pelatih. “Untuk membagi fokus, misalnya di sekolah ada acara yang tidak bisa ditinggal, saya harus mendahulukan pekerjaan utama sebagai guru. Lalu saya minta bantuan atau backup dari rekan pelatih lain,” kata Dika.
Meski bergelut dengan berbagai kondisi penuh duka, di tengah perjalanan itu selalu ada sisi suka yang membantu mereka tetap bertahan. Rasa lelah, tekanan fisik, hingga waktu yang terkuras memang menjadi bagian dari keseharian. Namun, ada kebahagiaan tersendiri ketika mereka bisa membagikan ilmu, melihat murid berkembang, atau sekadar merasa bermanfaat bagi orang lain. “Mungkin rasa suka yang saya rasakan karena bisa membagi ilmu bagi anak-anak di kampung saya, agar mereka memiliki wadah. Syukur-syukur jika nantinya ada murid saya yang bisa menjadi pemain profesional di bidang sepak bola,” ungkap Dika.
Dika yang selalu sibuk membuat orang-orang terdekatnya ikut merasakan dampaknya. Annisa (27), sang istri, sudah terbiasa melihat suaminya pulang dengan tubuh letih, meski rasa khawatir tetap ada di hatinya. “Dia berangkat pagi, pulang sore bahkan kadang malam kalau ada jadwal tambahan di SSB. Saya khawatir kesehatannya, tapi saya tahu semua ini dia lakukan demi keluarga,” katanya. Ia menambahkan, waktu bersama anak-anak pun kini terasa jauh lebih berharga. “Kalau hari libur dia bisa di rumah, anak-anak langsung senang sekali. Itu yang membuat saya kuat untuk terus mendukungnya,” tambahnya.
Kondisi seperti ini tidak hanya dialami oleh Najwa maupun Dika, tetapi juga oleh banyak guru lain di Indonesia. Menurut survei yang dilakukan oleh Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) bersama GREAT Edunesia Dompet Dhuafa pada Mei 2024 terkait kesejahteraan guru menunjukkan bahwa 55,8 persen guru di Indonesia memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan.
Persoalan ini tidak berhenti pada kisah individu seperti Najwa maupun Dika, melainkan menjadi gambaran nyata tentang kesejahteraan tenaga pendidik di Indonesia. Survei tersebut juga mencatat bahwa 42 persen guru menerima penghasilan di bawah Rp2 juta per bulan. Angka tersebut menunjukkan betapa rendahnya penghasilan guru honorer, bahkan masih berada di bawah UMK terendah 2024 di seluruh Indonesia, yakni Kabupaten Banjarnegara sebesar Rp2.038.005. Artinya, di daerah dengan biaya hidup paling rendah di Indonesia sekalipun, sebagian besar guru honorer masih berjuang untuk sekadar dianggap layak.
Survei yang sama juga mengungkapkan bahwa 89 persen guru merasa penghasilan dari mengajar hanya pas-pasan, bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan tanggungan keluarga. Lebih jauh, 52,6 persen guru mengaku memiliki utang kepada bank atau Bank Perekonomian Rakyat (BPR), 19,3 persen berutang kepada kerabat atau saudara, 13,7 persen kepada koperasi simpan pinjam, 8,7 persen kepada teman atau tetangga, dan 5,2 persen melalui pinjaman online.
Pemerintah sebenarnya tidak diam menghadapi kondisi ini. Pada Hari Guru Nasional 2024, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan kenaikan Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi guru non-ASN (Aparatur Sipil Negara) menjadi Rp2 juta per bulan, dengan total anggaran kesejahteraan guru yang naik menjadi Rp81,6 triliun. Namun kebijakan itu menyimpan syarat yang tidak mudah. Hanya guru yang telah mengantongi sertifikat Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang berhak menerimanya. Bagi yang belum bersertifikat, insentif yang diterima hanya berkisar Rp300.000 hingga Rp500.000 per bulan. Ironisnya, untuk mengikuti PPG pun, guru honorer kerap tersingkir karena prioritas akses diberikan kepada guru berstatus ASN. Kebijakan yang dimaksudkan untuk menolong justru sulit dijangkau oleh mereka yang paling membutuhkan.
Kelelahan yang terus menumpuk tanpa jalan keluar itu tidak berhenti di ruang pribadi para guru. Ia ikut masuk ke dalam kelas. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa burnout pada guru, yang ditandai dengan kelelahan emosional, sikap yang semakin menjauh dari murid, hingga menurunnya kemampuan mengajar, secara langsung berdampak pada kualitas pembelajaran yang diterima siswa. Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa sebagian besar guru honorer tidak mendapatkan jaminan kesehatan maupun ketenagakerjaan, padahal beban kerja mereka kerap melebihi guru ASN. Ketika guru jatuh sakit, tidak ada jaring pengaman. Ketika guru kelelahan, tidak ada sistem pemulihan. Yang ada hanyalah tuntutan untuk kembali berdiri di depan kelas keesokan paginya.
Kondisi ini turut berdampak pada minat generasi muda terhadap profesi guru. Riset yang dilakukan Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) pada 2025 menunjukkan hanya 11 persen anak muda yang tertarik menjadi guru. Rendahnya kesejahteraan membuat profesi mulia ini dianggap tidak menjanjikan di masa depan. Minimnya apresiasi terhadap guru juga memperkuat persepsi bahwa profesi ini tak lagi menarik di mata generasi muda.
Para pakar pendidikan menegaskan bahwa tidak mungkin mengharapkan stabilitas mutu pendidikan tanpa standar kesejahteraan yang menjamin kompensasi layak, beban kerja yang manusiawi, dan lingkungan kerja yang mendukung. Guru yang bekerja dalam kondisi tidak pasti, baik secara ekonomi maupun profesional akan sulit mempertahankan motivasi, fokus, dan kualitas pengajaran di hadapan murid-muridnya.
Di tengah anggapan bahwa profesi guru tidak lagi menjanjikan secara ekonomi, serta pandangan sebelah mata yang kerap melekat pada profesi ini, para guru tetap memilih kembali ke ruang kelas setiap harinya. Padahal, beban kerja yang mereka tanggung begitu besar. Dengan tuntutan pekerjaan yang berat, banyak guru secara tidak langsung juga dituntut untuk mencari pekerjaan sampingan demi bertahan hidup.
Namun, mereka memilih bertahan bukan semata karena keterpaksaan, melainkan karena keyakinan bahwa profesi ini memiliki arti dan dampak besar bagi anak-anak. Meski banyak pekerjaan lain yang terlihat lebih menjanjikan secara materi, menjadi guru tetap memiliki nilai tersendiri bukan hanya sekadar bekerja, tetapi juga turut membentuk karakter seseorang. Meskipun tantangan datang silih berganti, ada rasa bangga yang tak tergantikan. Rasa bangga itu hadir dari keyakinan bahwa setiap ilmu yang dibagikan, setiap karakter yang dibentuk, dan setiap murid yang berkembang adalah bagian dari warisan yang akan terus hidup
Dari berbagai kondisi tersebut, jelas bahwa kualitas pendidikan di Indonesia membutuhkan pembenahan serius. Sumber Daya Manusia (SDM) unggul sangat dibutuhkan untuk mendorong lahirnya generasi muda yang berdaya saing. Harapan para guru pun sederhana yaitu peningkatan kesejahteraan. Mereka ingin penghasilan yang layak, jaminan kerja yang pasti, serta apresiasi yang sepadan dengan tanggung jawab besar yang mereka pikul. Meski tenaga terbagi dan hari terasa panjang, besok pagi mereka tetap akan kembali berdiri di depan kelas. Mengajar mungkin melelahkan, tetapi meninggalkannya bukanlah pilihan mudah bagi mereka. Harapan mereka, suatu saat profesi guru tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan dihargai sebagai fondasi utama lahirnya generasi Indonesia yang lebih baik. (Risfa/Fahrel)








