TANGERANG, beritahariini.id – Penyakit kista ovarium sering kali dianggap sebagai masalah kesehatan yang hanya menyerang wanita dewasa atau mereka yang sudah melahirkan. Anggapan keliru ini membuat banyak orang tua dan remaja putri lengah, hingga mengabaikan sinyal-sinyal bahaya yang dikirimkan oleh tubuh mereka sendiri. Padahal, di balik gaya hidup saat ini, kasus kista ovarium pada remaja usia sekolah justru sedang meningkat tajam. Salah satu pemicu utamanya adalah apa yang tersaji di atas piring dan mangkuk mereka setiap hari, yaitu kegemaran mengkonsumsi makanan cepat saji atau junk food.
Seorang mahasiswi bernama Bunga (20), awalnya menganggap remeh rasa begah dan nyeri yang selalu datang menjelang menstruasi. Karena kesibukan kuliah yang padat, Bunga terbiasa menahan rasa sakit tersebut sambil terus mengkonsumsi makanan instan. Ia baru benar-benar sadar ketika perut bagian bawahnya mulai membuncit keras dan rasanya seperti ditusuk-tusuk benda tajam setiap kali ia berjalan. “Aku bener-bener syok sih kak, awalnya aku ke dokter penyakit dalam dan disuruh cek USG, dari situ baru tau kalau aku sakit kista ovarium. Jujur takut banget, aku sampe bener-bener nanya ke dokternya, aku masih bisa punya anak kan nanti? Soalnya setahuku kista tuh ngga bisa hamil kan,” ungkap Bunga.
“Aku sering makannya kalau nggak mie instan ya ayam geprek, terus aku juga suka minum boba. Karena kalo lagi stres ngerjain tugas, minuman manis itu pengembali mood aku. Tapi abis itu kapok sih, karena sampai sekarang aku masih berobat jalan” ujar Bunga. Berat badannya yang mendadak naik drastis adalah sinyal bahwa hormonnya sedang rusak, namun ia terlambat menyadarinya.
Siklus berbahaya ini bekerja melalui mekanisme resistensi insulin yang mirip dengan kondisi pada Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Ketika tubuh remaja dibombardir oleh lonjakan gula darah dari olahan tepung dan pemanis buatan, insulin yang berada di level tinggi secara kronis bertindak sebagai stimulan negatif. Sel-sel ovarium terpaksa memproduksi hormon androgen secara berlebihan. Hormon jenis laki-laki inilah yang mencekik proses pematangan folikel, sehingga kantung sel telur tersebut gagal robek, terjebak, dan berujung menjadi tumpukan kista fungsional.
Secara medis, apa yang dialami oleh Bunga bukanlah sebuah kebetulan. Dr. Saiful, SpOG seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi (kebidanan dan kandungan), menjelaskan bahwa masa remaja adalah masa pubertas di mana sistem hormon anak perempuan sedang mengalami masa transisi dan belum sepenuhnya stabil. Pada kondisi normal, indung telur (ovarium) akan mematangkan sel telur di dalam sebuah kantong kecil bernama folikel, yang kemudian akan pecah untuk melepaskan sel telur tersebut setiap bulannya. Namun, jika terjadi kekacauan hormon, folikel ini gagal pecah, tidak bisa mengeluarkan sel telur, dan malah terus terisi cairan hingga membengkak menjadi kista fungsional.
“Masih banyak banget orang tua yang mikir kalau anak remaja itu aman dari kista. Padahal, justru pas masa-masa pubertas begini risiko ketidakseimbangan hormon itu lagi tinggi-tingginya,” jelas Saiful. Beliau juga menjelaskan bahwa ketidakmatangan sistem hormonal tersebut justru menjadi celah besar jika dipicu oleh faktor luar, terutama pola makan. “Jadi, folikel yang nggak berhasil pecah tadi lama-kelamaan bakal numpuk cairan dan makin melar jadi kista. Kasus kayak gini semakin sering saya temui di pasien usia sekolah,” ujar Saiful.
Saiful juga menjelaskan hormon remaja mudah kacau karena pada pola makan tinggi kalori, tinggi lemak, dan tinggi gula yang akrab disebut junk food. Makanan-makanan seperti ayam goreng tepung, mie instan, kentang goreng, burger, hingga camilan manis dan minuman boba yang kekinian adalah musuh utama bagi keseimbangan hormon remaja. Makanan jenis ini mengandung zat-zat inflamasi (pemicu peradangan) dan kalori kosong yang memicu terjadinya kondisi bernama resistensi insulin, dimana tubuh kesulitan mengolah gula menjadi energi. Akibatnya, tubuh memproduksi hormon insulin secara berlebihan, dan insulin yang menumpuk ini akan langsung merusak cara kerja indung telur.
Bahaya junk food ternyata tidak berhenti pada kandungan lemak dan gulanya saja. Di balik kemasannya yang praktis, makanan cepat saji sering kali menyembunyikan zat tambahan berbahaya seperti pengawet, aditif, hingga zat kimia pelunak plastik yang disebut phthalate. Zat ini termasuk dalam golongan Endocrine Disrupting Chemicals (EDC), yaitu zat kimia yang dapat mengacaukan dan meniru sinyal hormon alami tubuh. Bagi remaja putri yang sistem hormonalnya masih berkembang dan belum stabil, paparan EDC dari makanan cepat saji serta kemasan plastiknya dapat merusak kualitas ovulasi, mengubah struktur jaringan ovarium, dan mempercepat pembentukan kista fungsional serta memicu siklus menstruasi yang tidak teratur.
Remaja putri yang sering mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan memiliki indeks glikemik tinggi berisiko jauh lebih tinggi mengalami gangguan pematangan sel telur dan hiperplasia (penebalan tidak normal) pada jaringan ovarium. Konsumsi tinggi makanan cepat saji membuat tumpukan lemak jahat di dalam tubuh remaja bertindak seperti pabrik hormon liar di jaringan adiposa (lemak) yang memproduksi hormon estrogen secara berlebihan, sehingga siklus menstruasi menjadi berantakan.
“Anak sekarang tuh suka banget makan minum gula dan tepung-tepungan gitu, padahal itu bisa memicu ovarium kerja jadi ngga normal karena kadar insulinnya bakal melonjak terus. Nah, insulin yang ketinggian ini malah maksa ovarium buat produksi hormon laki-laki atau androgen berlebih. Efeknya, sel telur gagal matang dan malah berubah jadi kantung kista,” jelas Saiful.
Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan olahan tepung, seperti roti halus, mie instan, dan camilan manis ternyata juga dapat memicu peradangan kronis tingkat rendah (low grade chronic inflammation) di dalam jaringan indung telur. Peradangan kronis yang tidak kasat mata ini merusak endotel pembuluh darah mikro di sekitar folikel. Akibatnya, cairan folikel menjadi terjebak, folikel gagal ruptur (pecah), dan ukurannya terus membengkak menjadi kista fungsional yang jauh lebih besar.
Meskipun makanan tinggi gula, lemak jenuh, dan makanan siap saji tidak secara langsung membuat kista secara instan, pola makan ini bertindak sebagai faktor risiko utama yang memperburuk ketidakstabilan hormon. Kabar baiknya, jalur kerusakan ini bisa dipulihkan melalui kekuatan nutrisi yang tepat. Intervensi gizi berupa peningkatan konsumsi sayuran hijau, buah-buahan, biji-bijian utuh (whole grains), serta ikan berlemak dapat secara signifikan mengurangi peradangan kronis di dalam tubuh dan meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga memulihkan fungsi normal ovarium.
Asupan makanan yang kaya akan serat, asam lemak omega 3, serta antioksidan tinggi, seperti vitamin C, vitamin E, dan polifenol terbukti efektif dalam memperbaiki siklus menstruasi sekaligus membantu mengecilkan volume kista fungsional. Mengonsumsi makanan utuh (whole foods) yang belum banyak diproses pabrik, seperti sayuran hijau, buah-buahan segar, kacang-kacangan, tahu, dan tempe dapat membantu tubuh melawan stres oksidatif. Nutrisi alami ini bertindak sebagai pertahanan alami yang menekan pembesaran kista dan mengembalikan keseimbangan siklus haid remaja.
Pada akhirnya, fenomena merebaknya kista ovarium di kalangan remaja ini menjadi pengingat keras bahwa penyakit tidak datang tiba-tiba, melainkan ditabung dari apa yang dimakan sehari-hari. Penanganan medis seperti operasi atau obat penyeimbang hormon dari dokter hanyalah solusi sementara untuk membersihkan kista yang sudah ada. Jika akar masalahnya yaitu kebiasaan makan makanan tidak sehat dan gaya hidup sedentari (kurang bergerak) tidak dipotong, maka kista tersebut memiliki peluang besar untuk tumbuh kembali.
“Tindakan operasi atau obat hormonal itu cuma buat beresin masalah fisiknya aja pas hari itu. Tapi kalau setelah sembuh anak-anak ini balik lagi makan sembarangan, ya kistanya bisa numbuh lagi,” peringat Saiful di akhir penjelasannya. Beliau menegaskan bahwa membenahi apa yang masuk ke dalam mulut adalah perlindungan terbaik bagi organ reproduksi remaja. “Jangan tunggu sampai anaknya ngeluh sakit parah baru pola makannya dijaga. Apa yang kita kasih di piring mereka hari ini, itu yang nentuin sehat-nggaknya rahim mereka di masa depan,” tutup Saiful memungkasi penjelasannya. (Mely/Fahrel)








