Mental Health terhadap Ide Bunuh Diri pada Mahasiswa

TANGERANG, beritahariini.id  – Kehidupan akademik di perguruan tinggi merupakan fase penting dalam perkembangan individu, di mana mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mencapai prestasi akademik yang baik tetapi juga harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan menyelesaikan berbagai tugas secara tepat waktu. Pada tahap ini, mahasiswa berada dalam masa transisi dari remaja menuju dewasa, di mana mereka mulai mengembangkan kemandirian, membuat keputusan penting terkait masa depan dan menghadapi berbagai tantangan hidup. Di balik segala dinamika positif yang ada, tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan akademik juga membawa beban tersendiri yang kerap kali memicu stres. Tekanan yang muncul, baik dari dalam diri maupun dari lingkungan, dapat menjadi sumber stres yang berdampak signifikan terhadap kesehatan mental mahasiswa.

Kasus bunuh diri pada mahasiswa terus mengalami peningkatan, Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa sekitar 20 persen penduduk Indonesia atau setara 54 juta orang mengalami gangguan mental emosional, yang mencerminkan bahwa satu dari lima masyarakat Indonesia berpotensi mengalami masalah kesehatan mental, mulai dari stres ringan hingga depresi berat. Lebih mengkhawatirkan, hanya sekitar 8 persen penderita yang mendapatkan penanganan profesional, menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kebutuhan dan akses layanan kesehatan mental, sementara itu setiap tahun tercatat lebih dari 2.000 kasus bunuh diri yang sebagian besar berkaitan dengan gangguan mental yang tidak tertangani dengan baik, dan kelompok remaja menjadi salah satu yang paling terdampak karena survei nasional menunjukkan bahwa sekitar 34,9 persen remaja Indonesia atau sekitar 15,5 juta orang mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, bahkan sekitar 9,8 persen remaja pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri, sebuah angka yang menunjukkan tingkat tekanan psikologis yang sangat tinggi di usia muda.

Bunuh diri merupakan penyumbang kematian keempat terbesar pada kelompok usia 15 hingga 29 tahun yakni usia remaja awal dan remaja akhir. Faktor yang membuat seseorang punya ide untuk bunuh diri, antara lain bisa datang dari ekspektasi untuk mendapatkan nilai yang tinggi, persaingan antarmahasiswa, hingga manajemen waktu yang kurang efektif dalam mengatasi tugas-tugas yang menumpuk. Selain itu, tuntutan akademik yang tinggi sering kali dibarengi dengan tekanan sosial dan ekspektasi keluarga, yang semakin memperburuk kondisi psikologis mahasiswa. Dalam jangka panjang, stres yang tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, dan burnout. Burnout sendiri merupakan kondisi kelelahan fisik dan emosional yang biasanya muncul akibat stres berkepanjangan.

Menurut Najela (21) Mahasiswa Pradita University, terdapat perbedaan kontras antara suasana di rumah yang lebih santai dan lingkungan kampus yang cenderung menuntut, di mana ia hampir selalu disibukkan dengan tugas. Pengalaman kelelahan berat, seperti saat harus begadang hingga pagi demi tugas animasi, memicu keinginan Najela untuk ‘menghilang’ dan menjauh sejenak dari tanggung jawabnya, meski ia menegaskan hal tersebut bukan berarti keinginan untuk mengakhiri hidup. Baginya, tekanan terbesar justru datang dari padatnya jadwal kuliah yang menumpuk dalam satu minggu, yang kemudian memicu gejala fisik nyata seperti keleyengan saat bangun tidur, gangguan keseimbangan, hingga penurunan respons kognitif saat harus berinteraksi sosial.

Dalam menghadapi titik jenuh tersebut, Najela lebih memilih menarik diri dan tidur siang selama maksimal tiga jam sebagai mekanisme pemulihan, daripada harus menceritakan kondisinya kepada orang lain karena ia merasa proses tersebut justru menguras energi. Ia juga enggan melakukan konseling kepada dosen atau pembimbing karena khawatir akan disalahpahami sebagai bentuk komplain, sehingga ia merasa lebih nyaman untuk sekadar berdiskusi dengan teman sebaya mengenai cara menghadapi tekanan serupa. Hal ini menunjukkan pentingnya sistem dukungan yang lebih suportif dan mudah diakses bagi mahasiswa, sehingga mereka tidak merasa terisolasi saat berjuang menghadapi burnout akademik.

Menurut Psikolog Rumah Sakit Primaya Fika Frahesti Yunita, yang banyak menangani pasien Gen Z dan mahasiswa, semakin meningkatnya keluhan kelelahan dan stres pada generasi ini disebabkan oleh tekanan dari berbagai sumber seperti keluarga, misalnya perbedaan harapan orang tua dan anak, kampus dengan tuntutan akademik, dan lingkungan pertemanan termasuk bullying sejak SMA. Banyak anak yang sebenarnya baik-baik saja di rumah dengan orang tua yang tidak abusive, justru mengalami tekanan besar dari lingkungan pertemanan. Ketika anak sudah tidak terbuka lagi kepada orang tua dan tidak punya tempat cerita, itu merupakan tanda bahwa mereka tidak punya saluran untuk mengeluarkan emosi, tidak punya tempat aman, dan tidak punya role model untuk belajar mengelola emosi. Akibatnya, mereka bisa memandang dunia secara negatif dan menjadi lebih tertutup, terutama ketika menghadapi bullying tanpa sistem pendukung yang memadai.

Ia juga menjelaskan, Stres tidak langsung berujung pada burnout atau stres berat, tetapi melalui tahapan yang bisa diamati, tahap alarm (sulit fokus, makan tidak teratur, susah tidur, menarik diri dari lingkungan sosial), tahap kelelahan/exhausted (stres ringan hingga sedang), hingga stres berat atau burnout yang mendekati depresi (tidak punya semangat hidup, tidak lagi senang melakukan hal yang dulu disukai, melamun, bahkan berhalusinasi). Jika emosi marah keluar, bisa muncul agresivitas yang menyakiti orang lain, jika marah ke dalam, bisa berujung pada self-harm atau bunuh diri. Banyak kasus kriminalitas atau bunuh diri terjadi karena anak tidak punya tempat cerita, perilaku awal diabaikan orang tua, dan stres yang tidak tertahan. Untuk mencegah hal ini, diperlukan edukasi dari media, pendidik, dan profesional untuk menormalisasi kesehatan mental, serta lingkungan yang lebih respect, aware, dan empati terhadap kesehatan mental orang lain.

Untuk mengatasi kelelahan mental, Fika menekankan pentingnya keseimbangan hidup yang dimulai dari perawatan fisik (makan cukup, istirahat cukup, olahraga, kena sinar matahari, jaga kebersihan tubuh, nyaman dengan penampilan), kemudian aktivitas hidup dan pola pikir (ada pembagian waktu antara belajar dan istirahat, input informasi yang positif dan bervariasi), aspek psikososial (berkumpul dengan orang yang memberi vibes positif, interaksi dan sharing), serta spiritual (membaca buku, mendengarkan musik, beribadah, mendekat ke alam). Jika sudah mengalami insomnia berkepanjangan, pikiran susah fokus, atau kondisi yang sulit dikondisikan, sebaiknya segera mencari pertolongan profesional. Recovering dari masalah mental tidak menjamin bebas masalah selamanya, tetapi ketika sudah sembuh, kalau drop tidak akan sampai ke bawah banget dan tidak butuh waktu lama untuk bangkit lagi yang penting adalah punya skill mengelola emosi dan memahami stressor untuk bisa fokus menanganinya.

Menurut dosen komunikasi Aulian khairani, dosen Program Studi Komunikasi di Universitas Islam Syekh Yusuf. Saya mengajar sejak 2015, jadi sudah sekitar 12 tahun. Sebagai dosen yang mengampu banyak mahasiswa, saya kerap menerima pengamatan bahwa ada mahasiswa yang tampak sering lelah atau kelelahan. Namun penting diklarifikasi dulu makna ‘kelelahan’ apakah berupa kelelahan fisik karena tugas, kelelahan mental, atau akibat tekanan finansial dan keluarga.

Dari pengalaman mengajar generasi Z, perubahan besar dalam teknologi, mindset, dan pengalaman masa kecil memengaruhi cara mereka menghadapi beban. Kebiasaan menginginkan hal yang cepat dan rendahnya ketahanan menunggu membuat beban akademik terasa lebih berat. Kelelahan umumnya muncul karena tugas yang menumpuk dan tekanan keluarga saya juga melihat bahwa mahasiswa perempuan lebih sering terbuka berbagi keluhannya, sementara mahasiswa laki-laki cenderung menyimpan masalah sehingga kita perlu lebih waspada.

Tanda-tanda mahasiswa yang kelelahan bisa berbeda tiap individu, namun ciri fisik yang sering terlihat antara lain langkah yang lemas, tampak lunglai, dan postur bahu yang turun. Ketika menemui mahasiswa yang tampak kelelahan, pendekatan saya adalah menanyakan kabar, membuka ruang untuk bercerita, dan mendengarkan tanpa menghakimi. Saya berusaha mengurangi beban emosional mereka, walau tidak selalu bisa menghapus semua masalah tetapi dengan memberi perhatian, menyediakan waktu pertemuan, dan menawarkan dukungan praktis.

Sebagai saran praktis, selain mendengarkan penting menyesuaikan pendekatan dengan karakter, untuk yang suka bercerita, fasilitasi curhat untuk yang pendiam, berikan perhatian yang konsisten dan tanyakan kebutuhan mereka secara langsung. Perhatian kecil seperti menanyakan kabar, memberi jadwal konsultasi, atau sentuhan yang sesuai konteks. Sering kali sudah membantu meringankan beban mahasiswa.

Kesehatan mental mahasiswa merupakan isu penting yang tidak dapat dipandang sebelah mata, terutama karena tingginya tekanan akademik, tuntutan sosial, serta ekspektasi dari lingkungan sekitar yang dapat memicu stres berkepanjangan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi burnout, depresi, hingga munculnya ide bunuh diri. Berdasarkan berbagai pandangan dari psikolog, dosen, dan pengalaman mahasiswa sendiri, terlihat bahwa kurangnya tempat bercerita, minimnya dukungan emosional, serta ketidakmampuan mengelola stres menjadi faktor yang memperburuk kondisi mental mahasiswa.

Oleh karena itu, diperlukan perhatian dan kerja sama dari berbagai pihak, baik keluarga, kampus, teman sebaya, maupun masyarakat, untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif, empati, dan terbuka terhadap isu kesehatan mental. Mahasiswa juga perlu dibekali kemampuan dalam mengenali emosi, mengatur keseimbangan hidup, serta tidak ragu mencari bantuan profesional ketika kondisi mulai sulit dikendalikan. Dengan adanya dukungan yang tepat dan kesadaran bersama mengenai pentingnya kesehatan mental, diharapkan mahasiswa mampu menghadapi tekanan akademik dengan lebih sehat sehingga dapat menjalani kehidupan perkuliahan secara optimal tanpa harus kehilangan harapan terhadap hidupnya. (Aden/Fahrel)

Related Posts

Kesiapan UMT Buka Fakultas Kedokteran Dinilai Kemenkes

​TANGERANG, beritahariini.id – Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) baru saja menjalani tahap penting berupa visitasi oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dalam rangka penilaian kelayakan pembukaan Program Pendidikan Dokter (Fakultas Kedokteran). Visitasi…

Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Minta Maaf soal Pernyataan Program MBG Tak Perlu Ahli Gizi

Tangerang,beritahariini.id –Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, mengajukan permohonan maaf secara terbuka terkait pernyataannya yang menyebutkan bahwa peran ahli gizi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa digantikan oleh…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Mental Health terhadap Ide Bunuh Diri pada Mahasiswa

  • By admin
  • Juni 1, 2026
  • 33 views
Mental Health terhadap Ide Bunuh Diri pada Mahasiswa

Sopir Angkot, Rokok dan Penumpang yang Tidak Bersuara

  • By admin
  • Juni 1, 2026
  • 70 views
Sopir Angkot, Rokok dan Penumpang yang Tidak Bersuara

Malam Puisi Tangerang Jadi Ruang Ekspresi Sastra, Soroti Isu Sosial hingga Patah Hati

  • By admin
  • Mei 31, 2026
  • 117 views
Malam Puisi Tangerang Jadi Ruang Ekspresi Sastra, Soroti Isu Sosial hingga Patah Hati

Paradoks Paylater antara Penyelamat Arus Kas atau Jebakan Konsumeris

  • By admin
  • Mei 29, 2026
  • 100 views
Paradoks Paylater antara Penyelamat Arus Kas atau Jebakan Konsumeris

Kecanduan Game Online: Masalah Nyata yang Sering Disepelekan

  • By admin
  • Mei 28, 2026
  • 72 views
Kecanduan Game Online: Masalah Nyata yang Sering Disepelekan

Body Shaming dalam Lingkungan Keluarga Besar

  • By admin
  • Mei 28, 2026
  • 130 views
Body Shaming dalam Lingkungan Keluarga Besar