TANGERANG, beritahariini.id – Dalam satu dekade terakhir, transaksi keuangan di Indonesia mengalami perubahan drastis. Dompet tebal bukan lagi syarat mutlak membawa pulang barang impian. Cukup dengan sekali klik di ponsel layar, fitur Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang akrab disebut paylater hadir menawarkan kemudahan akses barang tanpa harus memiliki uang saat itu juga. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat dinamika psikologis dan risiko jangka panjang yang mengintai penggunanya mulai dari kalangan mahasiswa hingga yang sudah berkeluarga.
Bagi Fitri (21), seorang mahasiswa yang belum menikah, perkenalannya dengan paylater bermula dari motif yang sederhana, promo besar. “Awalnya karena kalau pakai paylater ada potongan harga besar-besaran, jadi iseng-iseng nyoba,” ungkapnya. Namun, fungsi yang awalnya ia posisikan sebagai penghematan, bergeser menjadi pemenuhan gaya hidup, seperti berbelanja pakaian, tas, hingga sepatu.
Ironisnya, dana untuk melunasi cicilan tersebut bukan berasal dari penghasilan produktif, melainkan dari uang saku yang ia sisihkan. Di titik inilah, paylater mulai menunjukkan sisi gelapnya sebagai penjebak kontrol penggunanya. Fitri mengaku sering kali terjebak dalam akumulasi utang tanpa disadari. “Jebakan deh, soalnya kalau keseringan pakai, tahu-tahu cicilan kita banyak. Kadang enggak sadar juga gunakannya, tahu-tahu numpuk utangnya,” keluh Fitri.
Paylater secara sengaja dirancang untuk mengaburkan batasan antara pendapatan riil dan kredit virtual. Cara kerja paylater memang dibuat supaya tidak merasa sedang berutang. Secara psikologis, ketika melakukan pembayaran memakai uang tunai, ada rasa sakit atau sayang karena melihat uang keluar langsung dari dompet. Paylater menghilangkan rasa sakit itu karena bayarnya nanti. Akibatnya, gampang tergoda belanja karena merasa punya banyak uang, padahal itu bukan gaji asli, melainkan pinjaman.
Pemanfaatan paylater menunjukkan karakteristik berbeda ketika masuk dalam ruang lingkup kehidupan pascapernikahan. Maul (29), seorang pengguna yang sudah berumah tangga, melihat paylater lebih praktis. Meski awalnya tergiur untuk membeli pakaian, kini prioritasnya telah bergeser demi menjaga arus kas rumah tangga, seperti membeli token listrik di saat mendesak.
Bagi Maul, kuncinya adalah disiplin anggaran. Ia selalu menyisihkan uang lebih atau uang belanja khusus untuk membayar tagihan tanpa memotong kebutuhan pokok lainnya. “Kembali kepada orang yang menggunakan paylater-nya. Kalau digunakan untuk gaya hidup pasti akan jadi beban. Tapi kalau untuk saya, ini bermanfaat dan membantu karena kita bisa membeli kebutuhan di kala itu penting dan mendadak, tapi uang lagi pas untuk kebutuhan yang lain,” jelas Maul secara gamblang.
Perbandingan kontras antara penggunaan Fitri dan Maul menunjukkan bahwa dampak paylater sangat bergantung pada tingkat literasi keuangan penggunanya.
Menyoroti realitas yang ada, seorang Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Syekh-Yusuf Dr. Jamalus Drs.,MM. Memberikan pandangan dari sudut pandang akademis. Menurut beliau, secara makro ekonomi, eksistensi paylater meningkatkan aksesibilitas bagi masyarakat untuk mencicil kebutuhan tanpa kartu kredit. Namun, ia memberikan catatan kritis pada pergeseran perilaku konsumsi.
Kemudahan ini membawa konsekuensi perubahan perilaku konsumsi yang mengkhawatirkan. “Kemudahan transaksi membuat konsumen sering kali membeli barang bukan berdasarkan kebutuhan, tetapi karena dorongan keinginan dan tren. Akibatnya, masyarakat menjadi terbiasa mengonsumsi sesuatu tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial jangka panjang,” papar Jamalus.
Pendapat tersebut sejalan dengan temuan ilmiah yang dipublikasikan dalam Journal of Management and Digital Business. Kecenderungan adiksi terhadap paylater di kalangan usia muda dan mahasiswa dipercepat oleh kombinasi antara perilaku konsumtif internal dan tekanan sosial lingkungan. Keinginan untuk divalidasi dalam kelompok sosial kedodoran secara finansial, dan paylater hadir sebagai solusi instan untuk menjembatani kesenjangan status sosial tersebut, mengabaikan fakta bahwa ada beban bunga dan denda yang terus mengintai di balik layar.
Satu hal yang sering luput dari perhatian pengguna usia muda termasuk mahasiswa adalah jejak digital finansial yang ditinggalkan. Bahwa setiap transaksi, keterlambatan, hingga kegagalan pembayaran pada aplikasi paylater tidak menguap begitu saja, melainkan tercatat secara permanen dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.
Jamalus memperingatkan bahwa kelalaian menyelesaikan tunggakan berskala kecil pada masa kuliah bisa menjadi ganjaran besar di masa depan, termasuk saat mereka memasuki fase kehidupan dewasa yang sesungguhnya. “Saat ingin mengajukan KPR, kredit kendaraan, atau pinjaman usaha di masa depan, pengajuan mereka bisa ditolak atau mendapatkan bunga yang lebih besar. Dampak ini tentu cukup besar karena bisa bikin rencana keuangan di masa depan jadi terhambat,” tegasnya.
Bagi kelompok masyarakat, khususnya mahasiswa, yang sudah terlanjur masuk dalam pusaran ketergantungan pada paylater, Jamalus merumuskan sejumlah strategi manajemen keuangan yang paling efektif. “Mencatat seluruh utang dan cicilan, membedakan kebutuhan dan keinginan, membuat anggaran bulanan, membatasi akses penggunaan paylater, melunasi utang secara bertahap, mencari tambahan pemasukan, serta mulai membangun dana darurat,” jelasnya. Pada akhirnya, paylater hanyalah sebuah alat netral. Ia tidak memiliki kehendak menjerumuskan maupun menyelamatkan. Kualitas dampak yang ditimbulkan sepenuhnya berada pada kendali mutlak jemari penggunanya. Kemampuan untuk berkata tidak pada pemuasan hari ini adalah bentuk perlindungan terbaik bagi finansial di masa depan. (Serli/Fahrel)









