TANGERANG, beritahariini.id – Momen berkumpul bersama keluarga besar seharusnya menjadi ruang penuh kehangatan dan pelepas rindu. Namun bagi sebagian orang, pertemuan keluarga justru menjadi sumber luka akibat komentar mengenai bentuk tubuh atau fisik.
Candaan yang dianggap sepele seperti, kok kurus terus? atau makin gemuk ya sekarang, nyatanya dapat meninggalkan dampak psikologis mendalam bagi korban body shaming, bahkan ketika ucapan tersebut datang dari keluarga sendiri.
“Ih, dari dulu kecil terus ya.”
Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan bagi sebagian orang dianggap sekadar candaan atau bentuk perhatian. Namun bagi Nazwa (20), ucapan tersebut justru menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas setiap kali pulang ke kampung halaman.
Setiap momen mudik yang seharusnya menjadi ajang melepas rindu bersama keluarga besar, justru sering menghadirkan rasa tidak nyaman. Saat bertemu kakek, nenek, paman, hingga sepupu, Nazwa mengaku jarang menerima komentar mengenai bentuk tubuhnya. “Biasanya terjadi ketika ada keluarga yang sudah lama tidak bertemu saya. Baru datang, salaman, terus langsung komentar soal tubuh,” ucapnya.
Komentar yang paling sering ia dengar datang dari bibinya. Situasi tersebut biasanya terjadi ketika berjabat tangan di tengah keramaian keluarga. Meski tidak terjadi setiap hari, ucapan itu terus teringat jelas hingga sekarang. “Yang saya rasakan tentunya tidak nyaman dan sedikit marah, karena terkadang kalimat tersebut diucapkan saat ramai orang,” ujarnya.
Body shaming dalam keluarga memang kerap dianggap sepele. Banyak orang menganggap komentar fisik hanyalah candaan, bentuk perhatian, atau bahkan upaya memotivasi seseorang agar tampil lebih baik. Padahal, ucapan tersebut dapat meninggalkan luka psikologis yang tidak terlihat.
Menurut Devy Sekar, Psikolog Klinis gangguan kecemasan, online di Halodoc, body shaming dari keluarga dapat memicu gangguan kecemasan berlebih hingga stres berkepanjangan. “Dampak dari trauma itu bisa membuat munculnya gangguan kecemasan berlebihan dan stres. Hal ini juga berdampak pada rasa percaya diri korban, membuat korban mudah takut dan overthinking,” jelasnya.
Ia mengatakan perkataan yang terus diucapkan oleh keluarga besar maupun orang terdekat dapat membentuk trauma tersendiri bagi korban. “Perkataan-perkataan dari keluarga ini membuat korban menjadi trauma,” katanya.
Menurut Devy, korban tidak harus sepenuhnya mengabaikan ucapan orang lain, tetapi perlu belajar berdamai dengan diri sendiri dan situasi yang dihadapi. “Bukan berarti tidak usah mendengarkan ucapan mereka, tetapi korban harus bisa berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan sikap dan ucapan mereka,” tambahnya.
Ia menjelaskan terdapat beberapa tahapan agar korban dapat pulih dari pengalaman body shaming, seperti menerima, memaafkan, melepaskan, dan ikhlas terhadap diri sendiri.
Selain berdampak secara psikologis, body shaming dalam keluarga juga dapat memiliki konsekuensi hukum. Yahya Abdi Nugroho, Staff Lawyer, di MDF Law Office. Yahya, menjelaskan bahwa body shaming dapat dikategorikan sebagai bentuk penghinaan terhadap citra tubuh seseorang. “Body shaming dianggap sebagai perbuatan penghinaan terhadap citra tubuh dan dapat termasuk kategori perbuatan tidak menyenangkan apabila berdampak pada martabat dan kehormatan seseorang,” ungkapnya.
Menurut Yahya, tindakan body shaming di dalam keluarga tetap dapat dianggap pelanggaran hukum apabila mengandung unsur merendahkan fisik seseorang, dilakukan berulang, dan menimbulkan dampak psikologis serius. “Komentar bernada menghina fisik atau tindakan menyentuh tubuh seseorang secara tidak pantas dalam keluarga bisa dikategorikan pelanggaran hukum, terutama jika merusak harga diri korban,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa pelaku body shaming dapat dikenakan Pasal 315 KUHP tentang penghinaan ringan karena kata-kata, ejekan, atau ucapan yang merendahkan kehormatan seseorang. Meski pelakunya berasal dari anggota keluarga sendiri, tindakan tersebut tetap dapat diproses apabila memenuhi unsur penghinaan dan menimbulkan dampak bagi korban.
Fenomena body shaming di lingkungan keluarga menunjukkan bahwa luka tidak selalu datang dari orang asing. Terkadang, ucapan yang paling membekas justru lahir dari lingkaran terdekat yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang dan cerita. (Rangga/Fahrel)








