
TANGERANG, beritahariini.id – Ninny dan Huang Lan merupakan seniman dari Taipei, Taiwan, yang berpartisipasi dalam Jamming Session dalam pagelaran Expedition Camp di Kuil Durga Maa, Karawaci, Kota Tangerang, Kamis (16/10/25). Mereka berdua mewakili semangat pertukaran budaya melalui tubuh dan bunyi, menjadikan gerakan serta musik sebagai bahasa universal.
Ninny yang berusia 26 tahun, adalah seorang penampil yang mendalami seni tari Butoh asal Jepang selama sekitar lima tahun. Pendekatannya terhadap tarian bersifat murni spontan, menolak perencanaan, dan memandang setiap gerakan sebagai kehidupan dan kematian yang terus lahir dan mati berulang kali. Baginya, Butoh adalah cara merasakan kehidupan secara utuh, dimana keterhubungan dengan segala hal terjadi saat berjalan atau tidur. “Bahkan kita dapat merasakan roh atau hewan saat di atas panggung,” katanya.
Menurut Ninny, tujuan utamanya adalah menciptakan hubungan intim dengan penonton. Selain itu, menyatukan emosi mereka melalui ekspresi tubuhnya. Selain Butoh, Ninny adalah pemain Didgeridoo atau Yidaki, alat musik tiup tradisional Aborigin Australia, yang telah ia pelajari selama sekitar delapan tahun. Ketertarikannya pada alat musik dari budaya lain ini muncul dari perasaan emosional yang kuat. “Saya merasa mendengar suara perang sangat kuat saat pertama kali mendengarnya. Didgeridoo menjadi latihan spiritual yang memerlukan perenungan diri sebelum kembali dengan semangat baru,” ungkapnya.
Sementara itu, Huang Lan merupakan seniman yang melengkapi penampilan Ninny dengan instrumen musik yang berasal dari budaya yang berbeda. Ninny memainkan Hasapi, alat musik tradisional dari Indonesia yang ia temukan secara tidak sengaja di pasar barang bekas di Taiwan. Lan sangat menghargai kegiatan kolaboratif seperti Jamming Session. Baginya, pertemuan seniman lintas budaya sangat penting karena bisa belajar saling memahami lewat bunyi dan gerakan. “Musik dan tubuh adalah bahasa universal,” tegasnya.
Melalui perpaduan Butoh yang ekspresif dan spiritual dari Ninny, Didgeridoo yang spiritual, serta Hasapi yang dibawa oleh Lan dari Indonesia, kedua seniman ini tidak hanya menampilkan pertunjukan. Mereka menciptakan jembatan pertukaran makna yang mendalam antara tubuh, bunyi, dan budaya, membuktikan bahwa emosi dan ekspresi seni melampaui batas-batas geografis. (Dana)









