
TANGERANG, beritahariini.id – Puluhan peserta mengikuti kegiatan Greenfinity sebagai langkah mendukung gerakan Climate Change Global, di Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Sabtu (31/1/26). Kegiatan ini bertujuan menekan jumlah sampah yang masuk ke TPA dan menambah ruang hijau melalui pertanian urban. Gerakan ini merupakan kolaborasi Bank Sampah Koalisi Peduli Sampah, Karang Taruna, KWT Jagadhita dan warga di lingkungan RW 08 Kelurahan Gebang Raya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang. “Greenfinity merupakan gabungan dari kata green yang berarti kepedulian atas bumi yang hijau dan infinity yang berarti sesuatu yang tidak berbatas. Greenfinity adalah representasi dari semangat warga dan kaum muda untuk menghijaukan lingkungan, dengan langkah-langkah berkelanjutan demi bumi yang Lestari,” ungkap Rahmat Hidayat, Ketua Greenfinity.
Rahmat menjelaskan, gerakan ini melibatkan anak remaja sebagai agen Greenfinity, untuk menjadi motor penggerak dan pendamping warga. Mereka melakukan program pengolahan sampah anorganik dan organik yangterintegrasi dengan budidaya sayur, ikan dan maggot. “Target kami bukan hanya lingkungan yang bersih, tapi perubahan pola pikir dan membangun gerakan yang organik. Melibatkan Gen Z adalah investasi jangka panjang agar gaya hidup minim sampah menjadi nilai dalam aksi memulihkan bumi dari krisis iklim,” kata Rahmat.
Menurut Rahmat, tantangan perubahan iklim saat ini sudah sangat nyata dihadapi oleh kita. Kota Tangerang baru saja mengalami banjir di beberapa titik. Situasi ini semakin memburuk karena banjir juga menghasilkan sampah yang berserakan. Pada sisi lain, sumber daya alam dan energi terus menerus dieksploitasi dan pola konsumsi manusia yang tiada habisnya, sisa konsumsi manusia yang berupa limbah selalu menjadi masalah. “Kondisi ini tentu menjadi perhatian bagi kita semua, menyadari pentingnya bergerak bersama secara kolektif dan konsisten dengan membentuk gerakan komunitas pilah melalui Bank Sampah Koalisi Peduli Sampah,” ujar Rahmat. Rahmat menceritakan, sejak tahun 2024 mereka berhasil memilah sampah anorganik 3.687 kg dan akhir tahun 2025 sebanyak 4.315 kg yang dicegah untuk terbuang ke TPA Rawa Kucing. Sejalan dengan adaptasi perubahan iklim mereka juga membangun pertanian urban dengan membentuk Kelompok Wanita Tani Jagadhita, yang menjadi bagian dari gerakan Greenfinity. “Saat ini KWT Jagadhita sudah menanam jenis sayuran cabe, tomat, terong, pokcoy, kankung, kacang panjang dan membuat rumah maggot untuk mengurai sisa sampah organik dari rumah tangga,” tutur Rahmat.

Berbeda dengan program lingkungan konvensional, Relawan Greenfinity menempatkan Gen Z di garda terdepan. Melalui serangkaian pelatihan mulai dari tanggal 31 Januari hingga 1 Februari 2026 secara intensif. Mereka juga akan mengembangkan program Zero Waste Mission, setelah dibekali keterampilan teknis. “Pelatihannya berupa pengolahan sampah organik, manajemen sampah anorganik, pertanian urban, dan skill komunikasi,” tambah Rahmat.
Ditambahkan Rahmat, program ini lahir dari kesadaran bahwa sektor rumah tangga menyumbang persentase sampah organik yang besar. Jika tidak dikelola, akan melepaskan gas metana yang memicu pemanasan global. “Melalui Zero Waste Mission, warga diajak untuk memutus rantai sampah tersebut langsung dari sumbernya,” tandasnya.
Filbert Aisy Nuri, peserta pelatihan mengaku terlibat dalam Relawan Greenfinity karena ingin menunjukkan bahwa peduli iklim bukan sekadar teori di sekolah. Dengan Zero Waste Mission, dirinya belajar bahwa sampah yang kami hasilkan hari ini bisa menjadi sumber pangan untuk esok hari melalui pertanian urban. “Acaranya seru. Kami juga bisa bikin pupuk organik hasil olahan sampah yang langsung dikasih ke petani,” tutupnya. (Lingling)







