0 3 min 1 tahun

TANGERANG, beritahariini.id – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangerang mencatat pasien Human Immunodeficiency Virus/Acsquire Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) untuk penyintas dari pemakaian jarum suntik mulai berkurang. Populasi pasien paling banyak adalah melalui hubungan seks berisiko antara laki-laki dan wanita. Sejak Oktober 2018, sebanyak 500 pasien HIV/AIDS menjalani perawatan di Poli Cemara. Pihak RSUD Kota Tangerang melakukan pengobatan, edukasi, dan konseling.

Direktur RSUD Kota Tangerang  Dr.O.U Taty Damayanty mengatakan, sejak Pandemi Covid-19 penyakit HIV seolah-olah tenggelam. “HIV/AIDS kalau masih tahan tubuh yang bagus masih bisa produktif, jadi masih bisa melakukan aktifitas seperti biasa. orang lain tidak akan tahu,” kata Taty, kepada beritahariini.id pada Kamis (2/12/21).

Taty menjelaskan, pihaknya menggelar acara webinar dalam rangka hari AIDS sedunia tanggal 1 Desember 2021. Dengan tema menuju bebas Aids 2030. “Alhamdulillah sekitar 570 peserta ikut webinar. Pesertanya berasal dari luar pulau Jawa seperti, dari Palembang, Kalimantan. Peserta yang hadir dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter spesialis,” ujar Taty.

Taty menuturkan, untuk dokter gigi gejala paling banyak yang dirasakan oleh penyintas yaitu sariawan penuh. “Jadi di HIV ini ada manifestasi oralnnya, setiap stadium HIV ini berbeda-beda nah diharapkan nanti semua orang mengenali lesi-lesi oral di dalam mulut tadi terkait dengan infeksi HIV. Karena slogan mereka (pengidap) STOP, yaitu Suluh, Terapi, Obati dan Pertahankan. Nah disitu kita sama-sama beri semua multidisiplin untuk melakukan skrining,” tutur Taty.

Drg Rani Handayani, Sp.PM Spesialis Penyakit Mulut di RSUD Kota Tangerang menegaskan, dokter gigi mempunyai peran di skrining awal. “Misalnya beroba,t didapatkan jamur di mulut, sebagaimana manifestasi oral HIV, bisa digali apakah ada faktor resiko penularan HIV,” tegas Rani.

Rani menambahkan, pasien HIV/AIDS membutuhkan pendampingan dan dukungan orang sekitar dalam pengobatan. “Karena banyak orang yang terdiagnosa HIV sulit menerima kondisinya. Disinilah perang para konselor dalam konseling dan pengobatan pasien HIV,” tandasnya.

Rani mengungkapkan, mayoritas pengidap HIV yang ditangani adalah pria di usia produktif. “Dari 500 itu sebenarnya populasi kunci terbanyak adalah LSL. Untuk jumlah ibu hamil yang ditangani masih sedikit walaupun data dari Kemenkes jumlah ibu rumah tangga yang tertular juga cukup mengkhawatirkan,” pungkasnya. (Athaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *