0 2 min 1 tahun

RANGKAS, beritahariini.id – Pembukaan Festival Seni Multatuli (FSM) 2021 digelar secara online, Senin (4/10). Rangkaian pembukaan diawali performing art Tunggul Buhun oleh Wawan Sukmana dan Gebar Sasmita.  Bupati Lebak Hj. Iti Octavia Jayabaya, menyambut baik pelaksanan festival tahunan itu. “Adaptasi kebiasan baru seperti halnya kita memasuki sebuah bubu atau alat tangkap ikan tradisional, yang membuat kita semua berbalik mundur ke belakang. Bukan untuk sebuah kemunduran, tetapi untuk membangkitkan kesadaran kita bahwa era baru telah berdiri di depan mata,” kata Iti.  

Menurut Iti, Festival Multatuli digelar berbarengan dengan penurunan angka dan kasus Covid 19 yang dapat kita rayakan bersama-sama. “Tapi pandemi ini juga bisa menjadi refleksi untuk kita bahwa sejarah harus selalu kita ingat,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin menyampaikan bahwa Tunggul Buhun tidak hanya berarti akar tua. Tunggul Buhun yang menjadi tema FSH 2021 adalah kekuatan yang menyatukan seluruh tradisi budaya. “Ini merupakan cikal bakal lahirnya sebuah tradisi budaya, yang keberadaannya masih terjaga dan masih dilestarikan oleh dua entitas masyarakat Kabupaten Lebak. Yaitu Masyarakat Adat Baduy dan Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul,” ungkap Imam.

Imam menjelaskan, kata Tunggul Buhun menjadi tema sentral FSM 2021 dengan tujuan menjangkarkan kembali seluruh elemen seni budaya di Kabupaten Lebak melalui beragaram ekspresi kesenian. “Hal ini merupakan sebuah jawaban yang kita lakukan bersama di situasi masa pandemi yang belum berakhir namun tetap berkarya dan bangkit dari keterpurukan selama ini,” tambah Imam.

Pembukaan FSM 2021 juga  menampilkan Rijal Mahfud yang merupakan salah satu back sound dalam film dokumenter Marengo.  Dilanjut dengan penampilan monolog yang dibawakan oleh Opik Janggot yang berjudul Kisah Cinta. Sebuah tafsir bebas kisah Siajah Adinda dari buku Max Havelaar karya Multatuli. Ada pula penampilan Band Beranda Rumah,  dan pemutaran film dokumenter Marengo. (Sukanda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *